Awal mengenal kota Subang
Pertama kali sampai kota Subang di saat malam menjelang dini hari. Untuk mencari kota tersebut sedikit sulit. Dari Jakarta melalui tol Cikampek kemudian terpecah mengarah Bandung melalui Tol Purbaleunyi sebelum sampai ke tol Cipularang kemudian keluar pintu exit tol Sadang.
Dari Sadang menuju Subang harus bertanya berkali-kali, "Subang itu dimana?", yang ternyata saat saya tanya dari wilayah Kalijati yang sebenarnya masih wilayah kabupaten Subang, jika disebutkan "Subang" itu berarti menunjukkan wilayah "Subang kota atau kota Subang". Kabupaten Subang pun ternyata sungguh luas wilayahnya dari pesisir pantai sampai dataran tinggi. Saya pun harus mengerti dan mengulik-ngulik jawaban dari si pemberi arah. Jawaban berbahasa Sunda bercampur sedikit kata bahasa Indonesia yang harus saya terima. Kemudian istilah kata dari suatu padanan kata seperti kata "stopan" yang mesti mengira-ngira artinya apa? yang ternyata artinya lampu lalu lintas 🚦 yang mungkin saya biasanya menyebut lampu merah. Penerangan jalan pun saat itu kurang sekali di wilayah Subang, yang mengakibatkan saya sudah melewati agak jauh dari tempat tujuan yakni kantor saya.
Akhirnya tiba juga setelah meyakinkan melihat plang nama kantor saya walaupun agak mengerenyitkan dahi terlihat samar-samar pencahayaan redup dan digelapnya malam. Sesampainya di sana disambut satpam kantor yang berjaga penuh dedikasi selama 24 jam - 7 hari seminggu penuh, langsung memastikan kedatangan pegawai baru yang akan tiba dan memberikan kunci mess kantor. Saya pun menginap beberapa hari sebelum mendapatkan tempat tinggal sendiri di Subang dalam waktu 2 minggu (sebentar banget waktunya, huhuhuhu 😥).
Ternyata eh ternyata di Subang itu jika sudah menjelang sore, untuk mendapatkan jasa angkutan umum angkutan kota a.k.a angkot itu sulit sekali sampai sudah tidak ada lagi walaupun baru menjelang maghrib, kecuali menggunakan jasa ojek ataupun becak. Untungnya teman seangkatan saya membawa motor dari kuningan (pasti mahal tuh motor dari kuningan dan pasti silau kalau siang hari terpancarkan pantulan sinarnya, *krik hahaha mulai ngaco 😜) untuk sekedar mencari ganjelan perut di malam hari.
Baru beberapa hari kami di mess lipi mulai merasakan sedikit aura-aura mistis. Seperti lampu yang tiba-tiba sering padam. Tetapi saya berpikir logis saja, mungkin saklarnya sudah rusak, jadi sering turun. Mungkin yang agak lebih mengherankan, kaos kaki yang dipakai teman saya dapat terlepas sendiri. Saya berfikir mungkin terlalu lelah teman saya tidur, jadi tidak berasa terlepas. Saat bekerja sempat terdengar dari teman kantor kalau cerita yang kami alami di mess tersebut berarti "selamat datang orang baru" 😈.
Waktu yang diberikan menginap di mess selama 2 minggu itu saya anggap dan saya tarik ucapan saya bahwa itu terlalu lama bagi kami yang menginap. Dan saya harus cepat-cepat mencari kontrakan di dekat kantor saya huhuhuhuhu 😶.
Akhirnya tanpa menunggu waktu lama, saya mendapatkan tempat kosan dari informasi teman kantor saya yang sudah lama bekerja di sini. Saya pun mendapatkan kamar kosan yang ala kadarnya sesuai harganya Rp. 300.000 perbulan.
Segitu saja perkenalan awal saya dengan kota Subang, nantikan cerita berikutnya yang lebih seru lagi.
Terima kasih.😊


Comments
Post a Comment