Ada Bali di Subang?
Yup, kembali lagi di postingan saya.
Saat ini saya mau menceritakan pengalaman saya, istri dan putri saya pergi ke pantai 🌊⛱. Karena putri saya ingin sekali ke pantai lagi, yang sebelumnya waktu masih bayi baru tau pantai yang ada di Ancol Jakarta.
![]() |
| pantai Ancol Jakarta |
Oiya satu lagi sempat mampir sebentar di Pantai Pasir Putih saat mau kondangan teman kuliah yang menikah di Lampung.
![]() |
| pantai Pasir Putih Lampung |
Ok, ternyata Subang punya pantai, tepatnya di wilayah pantai utara kecamatan Pamanukan. Denger-denger isunya wilayah Pamanukan ingin memisahkan diri dari Subang, yang merasa wilayahnya dianaktirikan dari kabupaten Subang (mungkin).
Hari dimana kami melakukan perjalanan ke sana, tepat dihari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 71. Setelah upacara bendera di kantor, saya pulang ke rumah dan bergegas melakukan perjalanan ke pantai. Namanya pantai Pondok Bali, dari kota Subang ditempuh perjalanan sekitar 1 jam.
Perjalanan kami ditempuh menggunakan sepeda motor saya, yang saya bawa dari Jakarta, demi memperlancar mobilisasi saya di kota Subang yang telah saya ceritakan pada cerita sebelumnya mengenai transportasi di Subang. Motor itupun kenang-kenangan hasil jerih payah saat saya kerja di Jakarta. Mungkin dipostingan berikutnya saya akan ceritakan pekerjaan saya saat di Jakarta.
![]() |
| naik motor |
Berbekal googlemaping sehari sebelumnya untuk mencapai ke sana, kami berangkat pukul 9:00 wib. Hape kami belum smart-smart amat, jadi tidak ada bantuan GPS dan software penunjuk arah tujuan untuk memudahkan perjalanan kami. Dengan mengingat-ingat jalan yang sudah saya dapatkan, juga memperhatikan dengan seksama marka arah nama jalan menuju ke sana.
Dengan kecepatan sedang, kira-kira 40-60 km/jam itupun perkiraan sendiri dikarenakan kabel speedometer sudah putus, tetapi tidak memutuskan semangat saya untuk mencapai tempat tersebut. Plang arah bertulisan pondok bali sudah terlihat setelah melewati perempatan Pamanukan. Saya pun senang karena sudah mau mendekati tempat tujuan. Saya mengikuti arah jalan, melewati jalan yang sedikit menyempit dikarenakan ada kerumunan masyarakat yang sedang menyaksikan upacara pengibaran bendera 17 agustusan oleh pemerintah desa setempat di pinggir lapangan sampai ke jalan.
Setelah melewati kerumunan tersebut, kami sudah melihat di sisi kanan jalan saluran air payau yang agak lebar sekitar 2-3 meter, menambah keyakinan saya bahwa itu menuju muara atau ke laut. Tetapi baru beberapa meter, jalanan sudah ditutup oleh bambu yang melintang yang menegaskan bahwa jalanan sedang diperbaiki atau baru dicor. Tetapi saya coba terobos lewat samping kiri jalan, yang masih bisa dilalui sepeda motor. Jalanan yang baru dicor tersebut membuat beda ketinggian dengan sisi jalan yang belum dicor, sekitar 20-30 cm ketebalan jalan yang baru di cor tersebut. Di sisi kiri jalan sudah tidak bisa saya teruskan, dimana semakin rusak dan hancurnya jalan bercampur lumpur. Akhirnya saya angkat motor saya dibantu oleh pemancing yang sedang memancing di saluran air dipinggir sisi kanan jalan itu. Setelah motor saya berada di atas coran yang baru, saya mencoba menanyakan di mana pantai Pondok Bali? Pemancing itu pun tidak tau dimana pantai itu, pemancing itu menerangkan bahwa ia baru pertama kali datang ke tempat itu. Waduuuh, saya semakin bingung dan ragu, tetapi saya tetap yakin harus mencapai pantai tersebut, dikarenakan sudah kepalang tanggung, perjalanan yang cukup jauh dari kota Subang. Kamipun meneruskan perjalanan lurus mengikuti saluran air. Jalan coran pun sudah semakin habis, kembali mendapatkan jalan yang rusak parah. Pohon kelapa yang menjulang tinggi terlihat diterpa angin, menambah keyakinan saya bahwa pantai sudah dekat.
Saya mencoba bertanya kepada anak kecil seumur sekolah dasar, dia pun tidak tau apa atau dimana itu pantai. Kemudian semakin terlihat perahu-perahu di aliran air itu yang terparkir berjejer satu sama lain. Terlihat rumah-rumah dan seperti pasar ikan yang telah hancur rata dengan jalan dan tergenang air laut, mengantarkan perjalanan kami di sisi jalan. Semakin ke depan saluran air berada ditengah-tengah jalan sisi kanan dan kiri, saya pun mengambil sisi kanan jalan, tetapi sisi kanan pun sepertinya juga sudah tidak bisa dilewati oleh kendaraan sepeda motor. Dan saya belum juga bisa melihat pantai, kemudian saya bertanya kepada seorang tukang siomay bersepeda. Dia menunjukkan bahwa pantai tersebut melewati sisi kiri jalan setelah melintasi gapura bertuliskan selamat datang di tempat wisata pantai pondok bali " yang sudah tidak begitu jelas terlihat tulisannya. Saya pun ke sisi jalan menyebrangi jembatan setapak yang cukup satu arah motor dan cukup tinggi, dikarenakan jembatan itu dapat dilintasi perahu di bawahnya.
Tak jauh dari gapura saya melihat seperti pintu masuk yang dijaga petugas tanpa seragam, mungkin warga sekitar yang ditugaskan mejual tiket masuk ke pantai. Setelah membeli karcis dengan harga Rp.10.000 per kendaraan, jalanan menuju ke pantai sungguh mengerikan, berbatuan dan rusak. Sisi kanan dan kiri sudah hamparan air laut seperti melintasi jembatan gibraltar. Sebenarnya dalam hati saya sangat takut, takut bila tiba-tiba ombak laut menghempaskan saya, istri dan anak saya. Tetapi sebagai laki-laki, suami dan ayah saya harus kuat dan berani. Di sisi kanan kiri banyak pohon-pohon bakau, yang mungkin untuk mengurangi abrasi air laut.
Pasir laut pun sudah terlihat, kami pun langsung memarkirkan motor. Sedikit mendengar curahan pedagang di sekitar pantai bahwa hari ini sepi sekali, biasanya hari libur itu ramai pengunjungnya. Dan juga dia menanyakan apa jalananan masih ditutup menuju ke pantai? Saya pun mengiyakan.
Akhirnya perjalanan kami tidak sia-sia, sisa-sisa sedikit kesohoran pantai Pondok Bali masih terlihat. Kami pun terutama putri kami sangat menikmati pantai dan deburan ombak laut pantai utara.
![]() |
| pantai Pondok Bali Subang |
Terima kasih, sampai jumpa dipostingan saya berikutnya.






Comments
Post a Comment