ke Jakarta aku kan kembali
Kalau kebanyakan orang, mudik dari Jakarta ke tempat tinggal orang tua, keluarga, mertua, sanak family di kota, kampung atau daerah luar Jakarta. Tapi untuk saya, sejak 2015 saya mudik dari tempat menetap sekarang bekerja di Subang Jawa Barat menuju ibukota Jakarta. Mungkin tidak terlalu banyak yang seperti saya. Mudik kali ini saya harus menggunakan kendaraan umum, dikarenakan kendaraan saya sedang tidak memungkinkan untuk mengantar mudik ke Jakarta. Tak ada rasa kecewa, saya dan keluarga saya tetap ikut ritual tahunan di hari raya Idul Fitri.
Kabar berita dan info mengenai mudik sudah mulai ramai di media elektronik. Di hari terakhir masuk kerja sebelum cuti bersama lebaran tepatnya hari Kamis tanggal 22 Juni, saya dan semua pegawai diwajibkan masuk kerja. Saya pun datang sebelum pukul 07.30 wib, bergegas untuk absensi masuk. Dimana jadwal kerja pada saat bulan Ramadhan 07.30-14.30 wib dan untuk hari Jum'at pulang 15.00 wib. Di saat saya selesai absensi masuk, ternyata sudah banyak pegawai yang siap-siap pulang dan bergegas untuk perjalanan mudik. Ternyata oh ternyata, kami diberikan kelonggaran untuk absensi masuk saja, untuk absensi pulang, kami "diputihkan" istilahnya. Alhamdulillah,... yeahh terima kasih pengelola kantor. Langsung saya ke parkiran motor untuk pulang ke rumah dan mengabarkan kalau kami bisa berangkat mudik pagi hari, tidak perlu menunggu sampai pulang kantor.
Setelah siap semua, kami pun berangkat ke Jakarta menggunakan bus Warga Baru Subang - Jakarta. Dengan berbekal dua buah tas ransel pemberian dari dua kali diklat dan tas selempang kecil untuk membawa barang yang lebih penting, kami pun naik bus dengan hati gembira. Ongkos bus dengan tarif baru akibat sang supir dan kondektur ingin mencicipi cipratan THR dari karyawan atau gaji ke 14 bagi PNS hehehe, yang biasanya 30 ribu rupiah menjadi 40 ribu rupiah, tetapi masih dimaklumi.
Memasuki jalan tol Jakarta-Cikampek yang seharusnya benar-benar bebas hambatan hanya berlaku bagi kami yang kendaraannya menuju ke Jakarta. Saya hanya bisa menatap dari balik kaca jendela bus melihat panjangnya kemacetan ke arah jalur berlawanan saya. Pemudik dari Jakarta menuju Jawa Barat dan Jawa Tengah atau mungkin ada yang sampai Jawa Timur begitu sabar dalam perjalanan yang setiap tahunnya selalu terkena macet.
Serupa dengan arus mudik, arus balik pun saya hanya menatap dengan kebanggaan ke semua orang-orang yang sudah dengan sabar dan bersemangat datang menemui orang yang mereka sayangi dan kembali ke tempat masing-masing walaupun selalu merasakan macet di jalan. Tidak hanya jalur tersebut, tetapi saya pun berbangga dengan orang-orang yang rela mengantri dan bersabar mencari tiket kereta api, kapal laut, tiket pesawat. Juga yang mudik tidak jauh-jauh dari Jakarta ke sekitar Jakarta seperti Bodetabek, macetnya sungguh luar biasa sampai di gang gang sempit pun macet di saat setelah sholat Ied. Juga di sekitar makam pun begitu penuh dan tumpah ruah parkirannya. Demi bertemu dan mendoakan orang-orang yang kita semua cintai dan sayangi.
Terima kasih, sampai jumpa lagi.
Wassalamualaikum warah matullahi wabarakatuh


Comments
Post a Comment